pengalaman menulis pengalaman pribadi

Pengalaman Menulis Pengalaman

Banyak orang berpendapat bahwa menulis itu sesuatu kegiatan yang sulit. Menurut saya sih tidak sulit, tapi sangat sulit. Namun pastinya ada yang menganggapnya mudah apa lagi menulis pengalaman pribadi.

Maksudnya, mereka yang bilang menulis itu sulit adalah orang yang tidak suka menulis, sedangkan orang yang bilang menulis itu mudah adalah orang yang suka menulis atau bahkan hobi dalam menulis.

Jadi saya termasuk orang yang mana?.

Tentunya bukan keduanya karena saya menganggap menulis itu sangat sulit. Jadi bisa dikatakan saya adalah orang yang benci menulis. Tapi tidak benci-benci amat sih, soalnya menulis juga bisa menghasilkan uang bahkan dengan menulis seseorang bisa menjadi sarjana XD.

pengalaman menulis skripsi menjadi sarjana

pixabay.com | Sarjana Skripsi

Karena itu juga alhamdulillah saya bisa menjadi sarjana dengan menulis skripsi. Dari hal ini udah kelihatan kan ya korelasinya dengan judul artikel ini. Yap betul skripsi adalah salah satu pengalaman menulis saya saat menjadi seorang mahasiswa IT, tapi bukan yang pertama juga sih. Masih banyak lagi sih pegalaman menulis, contohnya menulis surat cinta XD.

Namun, yang mau saya ceritain disini adalah tentang bagaimana saya pertama kali menulis tentang pengalaman pribadi saya. Kedengarannya blunder ya, karena sebenarnya artikel ini merupakan pengalaman pertama saya menulis artikel di sebuah website secara serius.

JENIS PENGALAMAN MENULIS

Ternyata menulis artikel untuk sebuah blog itu bener-bener sulit, seperti yang sudah saya sebutkan dalam paragraf pertama.

Dari berbagai macam pengalaman menulis yang pernah saya lalui, berikut ini merupakan jenis tulisan yang sering saya tulis.

1. Menyalin tulisan dari buku paket sekolah ke buku catatan.

2. Menulis tugas mata pelajaran di sekolah.

3. Menulis CERPEN.

4. Menulis Puisi.

5. Menulis Surat Cinta.

6. Menulis Surat Lamaran Pekerjaan.

7. Menulis Proposal Kegiatan.

8. Menulis Laporan Praktikum.

9. Menulis Skripsi.

10. Menulis Pengalaman Pribadi.

Dari sekian banyak pengalaman menulis, semua tulisan yang saya buat tidak ada yang masuk kriteria layak dibaca sih menurut saya. setiap jenis tulisan memiliki tingkat kesulitannya masing-masing dari level Easy sampai level Advance. Mayoritas orang itu mengalami kesulitan dalam mendeskripsikan diri mereka sendiri.

Dalam segala hal seperti pengalaman, karakteristik, sifat, minat dan bakat. Kadang orang itu sulit mendeskripsikan lima hal tersebut, padahal sudah jelas ada pada diri mereka sendiri.

Sayapun mengalami hal demikian.

Mungkin menulis pengalaman merupakan jenis tulisan yang levelnya Easy bagi para penulis profesional. Namun yang saya alami adalah,

  1. Depresi ketika berpikir tentang menulis.
  2. Stress
  3. Merasa tidak bisa melakukannya
  4. Selalu menunda-nunda ketika harus menulis
  5. Merasa bahwa semua orang tahu apa yang mereka lakukan dan hanya saya yang tidak tahu harus melakukan apa.
  6. Saya berfikir bahwa jika orang lain melihat tulisan saya maka mereka akan melihat betapa bodohnya saya.
  7. Saya punya ide tapi tidak tahu bagaimana menuangkannya dalam tulisan.

Tujuh hal diatas adalah hal yang saya alami saat saya menulis artikel ini. Sebenarnya  saya menulis ini sambil senyum-senyum sendiri dan tertawa terbahak-bahak. Judul yang tidak jelas dan kurang menarik dan struktur yang tidak beraturan.

OK MULAI SERIUS

Dari subjudul diatas kita bisa pahami bersama bahwa dalam paragraf ini dan selanjutnya saya akan memulai serius.

Serius untuk apa?.

Serius untuk meminang Dia, iya Dia. Duh jadi nglanturkan, yang bener ya serius menyelesaikan tulisan ini sampai selesai dan sesuai dengan judulnya yaitu pengalaman menulis pengalaman.

Menulis pengalaman seperti apa sih?

Jadi waktu sekolah SD saya tuh pernah disuruh menulis pengalaman, tepatnya saat saya duduk di kelas tiga SD. Pada hari kamis, eh kayaknya jum’at deh hmm…

duh sebenernya lupa tepatnya hari apa yang pastinya pas bukan hari libur, yap pas hari efektif sekolah. Oh iya saya baru ingat kalo harinya itu hari senin, hari pertama masuk sekolah setelah sekian lama libur sekolah. Gak lama juga sih, cuman dua minggu aja kok.

Setelah upacara hari senin di awal masuk sekolah seluruh siswa masuk ke kelasnya masing-masing, bersiap-siap untuk memulai pelajaran baru disemester baru.

pelajaran dimulai jam 8 pagi tepat setelah upacara, saya dan teman-teman begitu excited untuk memulai pelajaran. Pelajaran yang menurut semua orang itu mudah namun mustahil untuk bisa mendapatkan nilai 100 di ujian semester apalagi ujian nasional.

Kalian pasti tahu mata pelajaaran apa itu?

BAHASA INDONESIA

Yap sudah jelas mata pelajaran itu adalah Bahasa Indonesia, teman-teman saya sih biasa menyebutnya bindo. Mapel Bahasa indonesia memang mudah namun untuk mendapatkan jawaban sempurna itu mustahil, dibutuhkan persepsi yang sama dengan pembuat soalnya.

Berbeda dengan mata pelajaran matematika yang cukup mengerjakan sesuai dengan rumus yang ada kita sudah bisa mendapatkan jawaban yang tepat. Selain itu bahasa indonesia juga dengan mata pelajaran lainnya seperti fisika, ipa, olahraga, dan pokoknya semua pelajaran lah.

Kok malah jadi bahas pelajaran ya?, nglantur lagi nih. Sebenernya sih sengaja biar artikelnya agak panjangan hihi… XD.

OK, kembali ke Laptop eh…. ke cerita tadi.

Tadi sudah sampai mau memulai pelajaran dan menunggu wali kelas yang juga merangkap sebagai guru segala mata pelajaran selain mapel agama dan olahraga. Soalnya di SD saya memang kaya gitu satu guru untuk satu kelas, gak tau ditempat kalian.

Setelah beribu-ribu detik menunggu Pak guru Haryono akhirnya beliau datang juga, ya wali kelas kami namanya Pak Haryono. Beliau juga adalah Kepala Sekolah di SD saya, namun itu adalah tahun terakhir beliau di SD kami. Pada saat saya naik ke kelas 4 beliau dimutasikan ke Sekolah lain.

Beliau memasuki kelas, saya dan teman-teman memberi beliau salam beliau membalasnnya dengan senyuman dan salam yang diucapkan dengan tegas. Ketua kelas mengkondisikan kami untuk berdoa dan memulai pelajaran.

Selesai berdoa pak guru mengawali dengan kata-kata “Sudah Siap ?”,  seketika kami mejawab dengan penuh semangat “SIAAAP!”. Beliau menanyakan mata pelajaran apa pada pagi itu, sekelas dengan kompak menjawab “BINDO”. Karena kami habis menyelesaikan masa libur sekolah beliau langsung memberi kami tugas Menulis Pengalaman Libur Sekolah.

PENGALAMAN LIBUR SEKOLAH

Itu adalah saat pertama kali saya menulis tentang pengalaman. Tanpa diajari sebelumnya bagaimana cara menulis yang baik dan membuat kerangka tulisan benar. Kami sekelas melongo berjamah mendengar perintah dari pak guru, namun pak guru menyuruh kami menulis secara sepontan berdasarkan ingatan kami pada saat liburan.

Yang menjadi masalah adalah saya bingung karena saya tidak liburan kemana-mana seperti teman-teman saya yang lainnya. Mayoritas teman saya berlibur ke luar kota, ada yang pulang kampunglah ke kampung halamannya ada juga yang jalan-jalan ke tempat-tempat wisata di berbagai kota.

Berbeda dengan teman lainnya saya hanya bisa bermain di kampung sendiri dengan teman-teman yang senasib dengan saya. Yang saya tahu pada saat itu liburan adalah pergi ke tempat baru. Bukan hanya dengan bermain bola, memancing, berenang di sungai, bermain layangan, mencari atau lebih tepatnya mencuri buah-buahan di sawah orang hihihi….

pengalaman masa kecil

pixabay.com | Pengalaman Masa Kecil

Jadi saya berfikir hal seperti itu bukan liburan karena bagi semua teman kelas hal itu adalah hal yang umum. Bagi teman-teman yang lain yang berlibur ke tempat-tempat wisata baru, itu adalah pengalaman berlibur yang bisa mereka banggakan dalam tulisan mereka.

Dalam kekalutan tersebut saya mencoba menulis cerita liburan yang apa adanya saja seperti yang saya alami pada saat liburan waktu itu.

Tulisan yang saya tulis berjudul Pengalaman Liburan, disitu tertulis kapan, dimana, bagaimana dan apa saja yang saya lakukan pada saat liburan. Tulisan tersebut akan saya muat dalam artikel berikutnya, jadi artikel ini bersambung sampai disini dulu.

See you on next article. 😀

One Response

  1. anonimous September 2, 2018

Ayo Komentari Artikel Ini