DIY, Info

Sejarah, Unsur, Jenis dan Pengertian Seni Kriya

Pengertian Seni Kriya

macam-macam kerajinan tangan
pixabay.com

Pengertian Seni Kriya – Karya seni memiliki banyak cabang, jenis, dan aliran yang berbeda beda salah satunya adalah Seni Kriya. Seni Kriya merupakan cabang atau turunan dari seni rupa, seperti yang kebanyakan orang pikirkan bahwa mereka mengaggap hasil dari seni kriya adalah seni rupa.

Tentunya dalam kehidupan sehari-hari, kita selalu melihat bahkan menggunakan salah satu hasil dari seni kriya. Tanpa kita sadari ternyata kita selalu memakai hasil karya dari seni kriya dalam keseharian kita.

Contoh dari seni kriya itu adalah baju yang kita pakai, kursi yang kita duduki, uang koin yang selalu digunakan untuk membeli permen, dan masih banyak lagi contohnya dalam lingkungan kita.

Terkait pengertian seni kriya secara lebih detail lagi ada pengertian dari para ahli seni dan dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.

Pengertian Seni Kriya Menurut Para Ahli

pengertian kerajnan menurut para ahli
pixabay.com

1. Prof. Dr. Timbul Haryono  (2002)

Menyebut bahwa Seni Kriya merupakan salah satu cabang karya seni yang cenderung pada pemanfaatan kekreatifan tangan yang trampil dalam pengerjaannya.

Asal kata Seni kriya dari bahasa Sansekerta, dari asal kata “Kr” yang memiliki makna ‘mengerjakan’, dari dasar kata ini kemudian digunakan sebagai kata kriya, karya dan kerja. Arti secara khususnya adalah suatu pekerjaan yang menghasilkan objek yang bernilai seni.

2. Prof. Dr. Soedarso Sp  (2000)

Pernyataan dari Prof. Dr. Seodarso Sp yang mengutip dari beberapa kamus, mengartikan seni kriya berasal dari bahasa Sansekerta. Disebutkan dalam kamus Wojowasito kriya bermakna pekerjaan, perbuatan. Sedangkan arti lainnya yaitu ‘demel’ atau membuat yang dikutip dari kamus Winter.

3. Prof. Dr. I Made Bandem (2002)  

Berdasarkan pendapat dari Prof. Dr. I Made Bandem Seni Kriya berasal dari kata “kriya” di dalam bahasa Indonesia bermakna pekerjaan atau ketrampilan tangan.

Ada penyebutan craft (Bahasa Inggris) yang artinya energi atau kekuatan. Pada dasarnya seni kriya dimaksudkan sebagai karya yang dihasilkan karena skill atau ketrampilan seseorang.

4. Prof. SP. Gustami

Menilik pendapat dari Prof. SP. Gustami yang beranggapan bahwa seni kriya merupakan warisan budaya yang adi luhung sejak masa kerajaan di Jawa dan mendapat tempat lebih tinggi daripada kerajinan.

Pengguna Seni kriya pada masa itu adalah para kalangan bangsawan dan masyarakat elit sedangkan kerajinan digunakan masyarakat umum atau kawulo alit, yakni masyarakat yang tinggal di luar tembok batas keraton.

Seni Kriya diangggap sebagai seni yang unik dan berkualitas tinggi karena dibuat oleh seniman yang handal, sedangkan kerajinan dianggap kasar dan terkesan setengah jadi. Contohnya perbedaan pembuatan keris dengan pisau, baik dalam hal proses, bahan, atau kemampuan pembuatnya.

Uraian diatas menggambarkan tentang seni kriya yang merupakan cabang seni dengan nilai estetik, simbolik dan filosofis sehingga mewujudkan karya-karya yang adiluhung dan monumental sepanjang sejarah.

Praktek kriya di masa kerajaan dibedakan dengan kerajinan, kriya berada dalam lingkup kehidupan istana kerajaan dan pembuatnya bergelar Empu. Sedangkan kerajinan berada di luar lingkungan istana dan dikerjakan oleh rakyat jelata atau kawulo alit, pembuatnya disebut pengrajin atau pandhe.

Pengertian Seni Kriya Menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia)

pengertian kerajnan menurut kbbi
pixabay.com

Dinukil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Seni kriya merupakan kata benda yang memiliki arti pekerjaan atau kerajinan tangan.  Bisa diartikan suatu kerajinan yang dihasilkan dari pekerjaan atau ketrampilan tangan.

Sejarah Seni Kriya

sejarah seni kriya
pixabay.com

Dari penjelasan beberapa pengertian seni kriya diatas dapat disimpulkan bahwa wujud awal seni kriya lebih cenderung sebagai seni pakai (terapan).

Praktek seni kriya pada mulanya bertujuan untuk membuat barang-barang yang memiliki kegunaan, baik ditujukan untuk kepentingan keagamaan  atau hanya kebutuhan praktis dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini dibuktikan dengan adanya artefak-artefak berupa kapak dan perkakas pada zaman batu serta peninggalan-peninggalan dari bahan perunggu pada zaman logam berupa; neraca, moko, candrasa, kapak, bejana, hingga perhiasan seperti; gelang, kalung, cincin.

Perhiasan sudah mulai digunakan pada zaman itu dengan adanya benda-benda tersebut. Selain itu juga digunakan dalam prosesi upacara ritual adat serta kepercayaan seperti penghormatan terhadap arwah leluhur.

Masuknya agama Hindu dan Budha di Nusantara tidak hanya berdampak dalam hal kepercayaan, tetapi sistem sosial dalam masyarakat juga terkena dampaknya.

Struktur sistem kerajaan dan sistem kasta menjadikan adanya tingkatan status sosial dalam masyarakat. Masuknya pengaruh Hindu–Budha di Indonesia juga berakibat melahirkan kesenian berupa seni ukir dan patung sebagai perwujudan dewa-dewa.

Seni Kriya semakin berkembang tidak hanya sebagai komponen dalam hal kepercayaan atau agama, namun juga berkembang sebagai konsumsi golongan elit bangsawan dan kerajaan.

Kondisi ini membuat seni kriya sebagai seni yang menduduki posisi terhormat pada masanya, berbeda dengan kerajinan yang cenderung digunakan oleh kalangan masyarakat biasa atau golongan rendah.

Seiring perkembangan zaman keadaannya berubah pada masa modern, dimana tingkatan sosial yang disebut “kasta” sudah tidak ada lagi. Sekarang tingkatan sosial tidak lagi berdasarkan “kasta” atau kebangsawanan, tapi kemampuan ekonomi yang menjadi penanda bagi status seseorang.

Posisi terhormat seni kriya yang spesial terancam tidak lagi eksis, kriya kini menjadi sebuah artefak warisan sejarah masa lalu. Kriya sekarang dalam kondisi desakralisasi dari posisi yang adiluhung menjadi artefak yang tetap dihormati namun sekaligus juga direduksi dan diproduksi secara terus-menerus.

Kehadiran Seni kriya dalam dunia pendidikan merupakan sebuah usaha untuk mengangkat seni kriya dari hanya sebagai artefak, untuk menjadikannya sebagai seni yang masih bisa eksis dan terhormat sekaligus.

Dalam masa perkembangannya dizaman modern ini, konsep kriyapun mengalami perubahan, kini dalam prakteknya khususnya dalam bidang akademis seni kriya mengalami pergeseran orientasi penciptaan.

Harapannya seni Kriya akan terus berkembang seiring perkembangan zaman.

Fungsi Seni Kriya

fungsi seni kriya
pixabay.com

Fungsi utama seni kriya adalah sebagai benda pakai (memiliki nilai kegunaan), adapun unsur keindahan yang ada hanyalah sebagai pendukung dan nilai tambah.

Sebagai Ornamen (hiasan yang dinilai dari keindahannya), yaitu seni kriya yang dibuat dengan tujuan sebagai benda pajangan atau hiasan. Jenis ini lebih cenderung menekankan aspek keindahan daripada aspek kegunaan atau segi fungsinya, contohnya untuk hiasan rumah.

Sebagai mainan, yaitu pembuatan seni kriya yang bertujuan untuk dijadikan sebagai mainan anak-anak.

Unsur Seni Kriya

Berdasarkan fungsi dari seni kriya maka sebaiknya hasil karya seni dapat  memenuhi unsur-unsur sebagai berikut:

  • Utility adalah aspek kegunaan dari benda kriya.
  • Guarantee, merupakan jaminan keamanan bagi orang yang menggunakan barang-barang kriya tersebut.
  • Comfortable, yaitu kenyamanan dalam penggunaannya. Barang yang enak dan nyaman digunakan bisa disebut sebagai barang terapan. Barang terapan adalah barang dengan nilai praktis yang tinggi.
  • Flexibility, yaitu luwes ketika digunakan.
  • Estetika, yaitu memiliki nilai keindahan.
    Keindahan dapat menambah rasa senang, nyaman dan puas bagi penggunanya. 

Jenis-jenis Seni Kriya

  1. Seni Kriya dari kulit,
    Seni Kriya yang menggunakan bahan dasar kulit untuk membuat karya seni yang bernilai seni dan bernilai jual tinggi. Entah itu dalam keadaan sudah dimasak, masih mentah atau kulit sintetis. Contohnya: tas, sepatu, wayang dan lain-lain.
  2. Seni Kriya dari logam,
    Penggunaan Logam seperti besi, perunggu, emas, perak sebagai bahan dasar pembuatan karya seni kriya. Teknik yang digunakan dalam proses pembuatannya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Contohnya pisau, barang aksesoris, dan lain-lain.
  3. Seni Ukir kayu,
    Kayu juga bisa digunakan sebagai bahan utama pembuatan karya seni kriya yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Jenis Kayu yang bisa digunakan untuk karya seni kriya adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contoh hasil karyanya berupa mebel, relief dan lain-lain.
  4. Seni Kriya anyaman,
    Mendengar kata anyaman mungkin terpikirkan menggunakan benang, namun tidak hanya benang atau kain saja yang dapat dibuat anyaman. Bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dll juga dapat dijadikan karya seni dengan menganyamnya, contoh hasilnya berupa topi, tas, keranjang dan lain-lain.
  5. Seni Kriya batik,
    Melukis tidak hanya bisa dilakukan dikertas kanvas saja, kainpun bisa digunakan sebagai media lukis yang akan bisa menjadikan sebuah kary seni berupa kain batik. Ada beberapa teknik melukis batik yaitu teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya berupa baju, gaun dan lain-lain.
  6. Seni Kriya dari keramik,
    Tanah liat merupakan tanah yang lunak yang dapat  menjadi keras jika dibakar. Hal ini dimanfaatkan untuk menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah dengan melalui berbagai proses seperti dipijit, butsir, pilin, pembakaran dan glasir. Contohnya berupa gerabah, piring dan lain-lain.
  7. Seni Kriya dari barang bekas,
    Banyak barang bekas yang tidak terpakai disekitar kita, seperti botol bekas, kardus bekas, koran bekas dan lain sebagainya yang masih bisa kita manfaatkan sebagai salah satu seni kriya. Diperlukan kreatifitas yang tinggi untuk bisa memanfaatkan barang bekas, banyak karya yang unik yang tercipta dari barang bekas yang bisa dibaca dalam artikel macam-macam kerajinan dari barang bekas.   

Protected by Copyscape

Ayo Komentari Artikel Ini

Share this product!
%d blogger menyukai ini: