5 Dasar Hukum Perhitungan Weton Jodoh Dalam Pandangan Agama Islam

Masyarakat Jawa tentu sudah tidak asing lagi dengan yang disebut perhitungan weton. Dalam perhitungan ini ada banyak aspek yang dipertimbangkan. Pada umumnya hitungan weton paling banyak dihubungkan dengan urusan pernikahan serta beberapa hal yang dianggap sakral lainnya.

Jika dikaitkan dengan Islam, tentu saja dalam budaya Islam yang awalnya lahir di Arab, tidak ada kaitannya kehidupan masyarakat dengan weton. Lalu, bagaimana pandangan Islam terkait hitungan Jawa tersebut? Berikut beberapa dasar hukumnya sekaligus penjabaran terkait.

 

Jodoh Menurut Islam

 

apa itu jodoh

arrahman.id

Sebenarnya, apa itu jodoh menurut Islam? Jodoh dalam Islam berarti pasangan hidup yang sudah ditakdirkan oleh Allah. Hal ini sesuai dengan firman-Nya dimana manusia diciptakan berpasang-pasangan sehingga jodoh sudah masing-masing sudah ditentukan.

Terkait jodoh tersebut, Islam memandang bahwa meski sudah ditetapkan setiap individu harus berusaha mencari jodoh yang baik. Ada banyak hal yang perlu menjadi pertimbangan. Di antaranya adalah seberapa baik sikap pasangan yang dipilih.

Selain itu Islam juga mengisyaratkan untuk menikah dengan orang yang sholeh atau sholehah. kecocokan jodoh  sendiri bergantung pada pribadi masing-masing. Bagi orang yang berperilaku baik, maka jodohnya juga baik. begitu juga orang yang berperilaku buruk, maka jodohnya pun demikian.

 

Jodoh Dalam Hitungan Jawa

Dalam hitungan jawa, berbicara mengenai jodoh, sangat erat kaitannya dengan perhitungan weton. Ada rumus-rumus tersendiri yang digunakan oleh para sesepuh untuk menghitung kecocokan pasangan melalui hari lahirnya.

Perhitungan tersebut dilakukan sebelum kedua belah pihak keluarga menyetujui pernikahan kedua pasangan. Tidak hanya masalah cocok atau tidak, hari pernikahan dan berbagai aspek yang berhubungan dengannya juga bergantung pada weton pasangan dan keluarga.

Perhitungan ini dilakukan dengan menjumlahkan perhitungan weton lahir kedua mempelai. Ada juga rumus pembagian dan sebagainya sehingga ditemukan angka tertentu. Angka inilah yang akan menentukan apakah pasangan cocok atau tidak.

 

Efeknya Perhitungan Weton Dalam Perencanaan Pernikahan

Adanya perhitungan weton seperti ini pastinya akan sangat berefek pada beberapa pasangan. Khususnya yang menghasilkan hitungan tidak sesuai ekspektasi. Bagi yang perhitungannya pas, maka tidak masalah. Namun pasti berbeda bagi yang perhitungannya tidak cocok.

Kemungkinan terburuk dari perhitungan weton yang tidak pas ini adalah pernikahan batal dilaksanakan. Padahal faktanya pernikahan merupakan sunnah nabi yang sangat dianjurkan. Bahkan disebut sebagai penyempurna agama.

Yang lebih parah lagi, adakalanya tidak ada solusi weton tidak cocok untuk beberapa hasil perhitungan. Jika sudah demikian, menurut kepercayaan para sesepuh, maka pernikahan sudah tidak boleh dilakukan karena malapetaka akan datang jika tetap dilangsungkan.

 

Dasar Hukum Yang Berkaitan Dengan Perhitungan Weton Jawa

doa mendapatkan jodoh yang diinginkan

pixabay.com

Jika pembahasan di atas masih membahas terkait jodoh dalam beberapa pandangan, kali ini akan dijabarkan terkait perhitungan weton menurut Islam. Dalam hal ini dasar hukum Islam yang tertinggi adalah Alquran dan hadits sehingga segala hal harus merujuk pada keduanya.

Untuk melihat bagaimana pandangan Islam terkait weton jodoh ini, tentu saja rujukannya akan lebih baik juga pada Alquran dan Hadits. Nah, berikut adalah beberapa dasar hukum terkaitnya yang bisa menjadi rujukan Anda.

  1. Surat An-Naml Ayat 65

Salah satu ayat Alquran ada yang membahas tentang bagaimana menyikapi hal-hal gaib, termasuk. yakni pada surat An-Naml. Arti dari surat tersebut adalah sebagai berikut.

Katakanlah : tidak ada satu orang pun yang ada di langit dan yang ada di bumi mengetahui terkait perkara yang gaib.

Dari sini bisa dipahami bahwa bagaimana perkara yang akan terjadi di masa depan tidak ada yang mengetahuinya karena itu termasuk pada perkara gaib. Sehingga tidak diperkenankan pula memberikan anggapan perhitungan pasti atau sesuatu hal yang berkaitan dengannya.

  1. R. Imam Abu Daud Tentang Ilmu Perbintangan

Selain ayat di atas, ada juga hadits yang bisa menjadi rujukan terkait hal ini, yakni hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu daud dalam Sunan Abu Daud.

Barangsiapa mengambil ilmu perbintangan, maka ia berarti telah mengambil salah satu cabang sihir, akan bertambah dan terus bertambah.

Hadits ini menyimpulkan makna bahwa ilmu perbintangan sebagaimana yang digunakan dalam perhitungan weton ini tidak diperbolehkan.

  1. R. Muslim Tentang Anggapan Sial

Perhitungan terkait weton yang tidak cocok seringkali dialamatkan pada sebuah kesialan yang akan menimpa diri dan keluarga. Berkaitan dengan itu, dalam Shahih Muslim diriwayatkan hadits sebagai berikut.

Tidak masuk pada golongan kami, siapa pun orang yang memiliki anggapan sial atau membenarkan anggapan orang yang memiliki anggapan sial, atau siapa pun yang datang pada tukang ramal maupun membenarkan ucapan tukang ramal tersebut, atau siapa saja yang melakukan perbuatan sihir maupun siapa saja yang membenarkannya.

Maksud dari hadits ini adalah melarang menganggap adanya kesialan karena hal tertentu. Selain itu ramalan jodoh menurut islam juga dilarang mengingat datang ke tukang ramal tidak diperbolehkan, hadits ini juga melarang yang berkaitan dengan sihir.

  1. R. Ahmad Tentang Dukun Dan Tukang Ramal

Berbicara mengenai tukang ramal, ada hadits yang lebih jelas riwayat Imam Ahmad. Hadits ini juga masuk pada kategori hukum percaya pada weton menurut Islam. Terjemah hadits tersebut adalah sebagai berikut.

Barang siapa yang datang ke dukun atau tukang ramal kemudian membenarkan apa yang telah dikatakan oleh peramal tersebut berarti dia telah kufur daripada ajaran yang diturunkan pada Nabi Muhammad SAW.

Perhitungan weton jawa yang bisa di kategorikan sebagai sebuah ramalan menurut hadits ini tentu juga dilarang. Bahkan, yang datang pada peramal ini dianggap sudah kufur dari ajaran Nabi Muhammad SAW.

  1. R. Imam Muslim Tentang Tukang Ramal

Masih berbicara tentang tukang ramal dan kaitannya dengan perhitungan weton, ada hadits lain yang memperkuat redaksi di atas. Bahkan dengan hukum yang lebih ekstrim sebagaimana diriwayatkan Imam Muslim berikut ini.

Siapa saja yang datang pada tukang ramal, maka selama 40 hari kemudian, shalatnya tidak diterima.

Tidak hanya anggapan kufur dari ajaran Nabi, menurut hadits ini bahkan mereka yang datang pada tukang ramal shalatnya selama 40 hari tidak akan diterima.

Jika langsung melihat pada hadits-hadits ini maka bisa dikatakan bahwa perhitungan berdasarkan weton ini memang tidak diperbolehkan. Beberapa ulama’ pun berpendapat demikian, Di antaranya ada yang menganggap bahwa hukumnya haram secara mutlak.

Meski demikian, tidak semua ulama berpijak pada hukum yang sama. Sebagian lain ada yang mengatakan bahwa tidak semua ahli nujum salah. Hanya saja kebanyakan dari mereka adalah orang fasik yang tidak dapat dipercaya sehingga dianggap tidak benar.

 

Menyikapi Budaya Jawa Terkait Hitungan Weton

perhitungan weton jawa

pixabay.com

Hidup ditengah masyarakat Jawa sekaligus masyarakat Islam tentu bukan hal yang mudah, apalagi berkaitan dengan jodoh. Oleh sebab itu harus disikapi dengan bijak sehingga tidak terjerumus dalam hukum agama yang salah, namun juga tidak mendapatkan permasalahan ditengah masyarakat.

Dalam hal ini, sebagai umat Islam sudah jelas kita dilarang mempercayai segala perhitungan yang belum pasti. Apalagi untuk perkara-perkara gaib. Sedangkan untuk mendapatkan jodoh yang baik, maka harus senantiasa memanjatkan doa mendapatkan jodoh terbaik pada Allah.

Dengan atau tanpa perhitungan jodoh dalam weton jawa, jika berusaha semaksimal mungkin menjadi orang baik dan berdoa pada Allah untuk mendapatkannya, maka hasilnya pun akan demikian. Terkait hal itu, ada sebuah quote yang menyatakan.

“ibarat kamu ingin mendapat jodoh sebagaimana Ali Bin Abi Thalib, maka perbaiki dirimu untuk menjadi selayaknya Fatimah binti Muhammad. Karena wanita yang baik ditakdirkan untuk lelaki yang baik, dan berlaku pula sebaliknya”

Selain itu, menyinggung sedikit terkait pemilihan hari, alangkah baiknya jika mengikuti bulan-bulan yang baik dan dianjurkan dalam Islam. Salah satunya seperti pada bulan Dzulhijjah di mana saat itu ada ribuan umat muslim melaksanakan ibadah haji dan umroh di tanah suci.

Kembali membahas mengenai cara menyikapi kepercayaan masyarakat terkait weton jawa maupun weton rejeki, usahakan tetap menjaga sikap. Biarlah mereka yang bersikukuh mempercayainya. Sedankan sikap diam ini dilakukan dalam rangka menjaga perdamaian dan persaudaraan bangsa.

Setelah mengenal beberapa dasar hukum perhitungan weton di atas sekaligus penjabarannya, bisa dipahami bahwa mempercayainya memang tidak diperbolehkan. Bahkan, jika terjun langsung ke lapangan, Anda akan temukan banyak kisah yang baik-baik saja meski perhitungannya tidak cocok.

Ayo Komentari Artikel Ini